MENGUNGKAP
RAHASIA KESULTANAN BARUS , SEJARAH KEBESARAN BANGSA
Hi Guys !!!
Gimana kabarnya semua ??
Nah , kali ini kita akan bahas sejarah internal kita nih..
Ternyata ada loh , kesultanan di sumatra utara yang merupakan salah satu
kesultanan yang tergolong sangat berpengaruh pada kehidupan masa sekarang...
Tepatnya pada penyebaran agama islam pertama kali di negara kita ini “
Indonesia “. Yaitu KESULTANAN BARUS
Mungkin , banyak dari kita yang masih asing mendengar nama Barus. Sebuah kota tertua di Indonesia yang terletak di pinggir pantai Barat
Sumatera. Tapi teman teman tahu gak bahwa Barus merupakan perkampungan Arab Muslim pertama di
Indonesia? Atau
mungkin kita masyarakat Indonesia sudah melupakan sejarah kita ? Sejarah yang
membawa realitas hingga pada saat ini ? Yang membawa keanekaragaman budaya dan
agama pada bangsa ini ? JASMERAH loo.. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Nah , tau gak teman apa dan dimana Kesultanan Barus itu berada ? Ayoooo... Pada penasaran kan ?
Nah , mari kita bahas sama sama ....
Tentang barus
Barus merupakan kota yang cukup terkenal di mancanegara terutama di Arab
dan Persia yang sekarang berubah nama menjadi Iran. Oleh karena itu barus juga
sering dikunjungi oleh para arkeolog nasional maupun mancanegara. Barus
merupakan kota Emporium atau pusat perdagangan pada abad 1- 17M. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di
antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Pada
zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, saat Sriwijaya
mengalami kemunduran dan digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun
masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh.
Pada masa lalu Kapur Barus dan rempah-rempah
merupakan salah satu komoditas perdagangan yang sangat berharga dari daerah ini
dan diperdagangkan sampai ke Arab, dan Persia. Kapur Barus sangat harum dan
menjadi bahan utama dalam pengobatan di daerah Arab dan Persia. Kehebatan kapur
ini pun menjalar ke seluruh dunia dan mengakibatkan dia diburu dan mengakibatkan
harganya semakin tinggi. Eksplorasi yang berlebihan dari kapur barus ini
mengakibatkan tidak ada lagi regenerasi dari pohon yang berusia lama ini. Saat
ini sangat susah menemui pohon kapur barus, kalaupun ada umurnya masih belum
mencapai usia memproduksi bubuk yang ada di tengah batang pohon.
Asal usul
Barus atau yang sebelumnya dikenal dengan Fansur,
merupakan salah satu pelabuhan tua yang sudah berdagang emas serta kamper sejak
ribuan tahun lalu.
Kesultanan Barus merupakan
kerajaan Islam yang terletak di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera
Utara. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Kesultanan Barus lebih
bersifat demokratis. Kesultanan ini didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah dan berakhir pada
saat pendudukan Hindia-Belanda di abad ke-19.
Menurut kronik Barus yang berjudul Sejarah
Tuanku Badan Kesultanan Barus bermula dari berpindahnya anggota keluarga Kesultanan Indrapura ke Tarusan, Pesisir
Selatan. Dari sini kemudian mereka pergi ke utara hingga tiba di
Barus.
Menurut kronik itu, Kesultanan Barus didirikan oleh
Sultan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Tarusan, Pesisir
Selatan, tanah Minangkabau. Kepergian Sultan Ibrahimsyah
(Ibrahim) ke Barus setelah ia berseteru dengan keluarganya di Tarusan. Ia pergi
menyusuri pantai barat Sumatera hingga tiba di Batang Toru. Dari sini ia terus
ke pedalaman menuju Silindung. Di pedalaman, masyarakat Silindung mengangkatnya sebagai
raja Toba-Silindung. Di Silindung, Ibrahim juga membentuk institusi empat
penghulu seperti halnya di Minangkabau. Penghulu ini berfungsi sebagai wakilnya
di Silindung. Selanjutnya ia menuju Bakara dan menikah dengan putri pimpinan
setempat. Dari putri Batak itulah, Sultan Ibrahim memiliki putra yang bernama
Sisingamangaraja.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke Pasaribu.
Disana masyarakat setempat menanyakan dari mana asalnya dan bertujuan untuk apa
datang kesana. Untuk menyenangkan hati raja, Ibrahim menjawab bahwa ia datang
dari Bakara dan bermarga Pasaribu. Mendengar kesamaan marganya dengan Ibrahim,
Raja Pasaribu sangatlah senang. Ia kemudian meminta Ibrahim untuk tinggal di
Pasaribu. Namun Ibrahim merasa bahwa tempat ini tidaklah cocok untuknya. Maka
bersama raja dari Empat Pusaran (empat suku) ia pergi hingga tiba di tepi laut.
Tempat ini kemudian dinamainya Barus, serupa dengan nama kampung kecilnya di
Tarusan, Pesisir Selatan. Disini ia diangkat sebagai raja dengan gelar Tuanku
Sultan Ibrahimsyah.
Raja Kadir
merupakan penerus kerajaan yang telah turun-temurun memerintah Barus dan
merupakan keturunan Raja Alang Pardosi, pertama sekali mendirikan pusat
Kerajaaannya di Toddang (tundang), Tukka, Pakkat – juga dikenal sebagai negeri
Rambe, yang bermigrasi dari Balige dari marga Pohan.
Pada abad ke-6,
telah berdiri sebuah otoritas baru di Barus yang didirikan oleh Sultan
Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, keturunan Batak dari kumpulan
marga Pasaribu, yang akhirnya membentuk Dualisme kepemimpinan di Barus. Silsilah raja yang pernah memerintah di kesultanan Barus adalah :
- Raja Kesaktian (di Toba)
- Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
- Pucaro Duan Pardosi di Tukka
- Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
- Raja Tutung Pardosi di Tukka
- Tuan Namora Raja Pardosi
Ada gap yang lama, raja-raja difase ini tidak
terdokumentasi
- Raja Tua Pardosi
- Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
- Raja Mualif Pardosi
- Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
- Sultan Marah Sifat Pardosi
- Tuanku Maraja Bongsu Pardosi (1054 H)
- Tuanku Raja Kecil Pardosi
- Sultan Daeng Pardosi
- Sultan Marah Tulang Pardosi
- Sultan Munawar Syah Pardosi
- Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)
- Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)
- Sultan Sailan Pardosi (1241 H )
- Sultan Limba Tua Pardosi
- Sultan Ma’in Intan Pardosi
- Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
- Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H)
Pada abad ke-6 otoritas baru di Barus
oleh Sultan Ibrahimsyah membentuk Duliasme kepemimpinan di Barus.
- Sultan Ibrahimsyah
- Sultan Abidinnsyah Pasaribu
- Sultan Buchari Muslim Pasaribu
Sejarah
Pada abad ke-14,
Kesultanan Barus merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Pagaruyung, bersama Tiku dan Pariaman, yang
menjadi tempat keluar masuk perdagangan di Pulau
Sumatera. Tahun 1524, Barus jatuh di bawah kekuasaan Kesultanan
Aceh. Posisi kesultanan ini kemudian menjadi vassal Aceh hingga
tahun 1668. Selama pendudukan Aceh banyak penduduk Barus yang sebelumnya
penyembah berhala menjadi muslim.
Dalam
perkembangannya Kesultanan Barus dipimpin oleh dua orang raja, yakni Raja di Hulu
yang memimpin masyarakat Toba-Silindung (pedalaman) dan Raja di Hilir yang
membawahi orang-orang Minangkabau (pesisir)
yang bermukim dari Barus hingga Batahan. Pembentukan dua raja ini
bertujuan untuk memberikan keuntungan terhadap dominasi Aceh di Barus,
sekaligus melegitimasi kedudukan raja-raja Batak. Sejak kehadiran VOC pada tahun 1668,
kedua raja ini memiliki sikap yang berbeda. Raja di Hulu menolak kehadiran VOC
dan mengangkat setia kepada sultan Aceh, sedangkan Raja di Hilir menerimanya
dan menentang monopoli Aceh di Barus. Pada abad ke-19, Barus berada di bawah
kekuasaan Hindia-Belanda dan menjadi bagian propinsi Sumatra's Weskust yang berpusat di Padang.
Istana
Istana Kesultanan Dinasti Pardosi/Pohan terletak di pinggir jalan
yang melintasi dataran rendah melalui Kampung Barus Mudik. Istananya dari kayu
disebut Gedung Putih, sekarang istana tersebut sudah hilang terbawa arus deras
sungai pada waktu terjadi banjir besar. Masih terlihat sisa-sisa benteng tanah
di tiga sisi kampungnya atau dahulu merupakan ibu kota Dinasti Kesultanan
tersebut.
Bukti sejarah
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius
Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria,
Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat
Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang di kenal
menghasilkan wewangian dari kapur barus. Bahkan, dikisahkan pula bahwa kapur
barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk
dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir’aun sejak Ramses
II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya
Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di
Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman
Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis bahwa Syaikh Rukunuddin wafat tahun
672 Masehi dan terdapat pula makam Syaikh Ushuluddin yang panjangnya kira-kira
7 meter. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada
era itu.
Sebuah tim Arkeolog yang berasal dari Ecole
Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang berkerjasama dengan
peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus,
telah menemukan bahwa pada sekitar abad ke 9-12 M, Barus telah menjadi sebuah
perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India,
China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu dan sebagainya.Tim
tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah
ratusan tahun, dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah
makmur. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pedagang Islam yang terdiri
dari orang Arab, Aceh dan sebagainya, hidup dengan berkecukupan di kota Barus
dan sekitarnya.
Jadi uda tahu kan kenapa Barus di sebut sebagai
kota tertua? Karena mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang
namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab,
India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya.
Okay GUYS!!Selesai sudah
artikel yang saya buat dari berbagai literatur dan buah pikiran saya . semoga
bermanfaat bagi kita semua.
CINTAILAH SEJARAH BANGSA DAN JANGAN SEKALI KALI MELUPAKAN SEJARAH !!!!!
1 komentar:
Jad kota Barus adalah kota yang lebih dahulu tercatat di literatur Yunani, Arab dan cina serta India sebelum Sriwijaya dong ya?
Posting Komentar