Catching Fire

Senin, 23 Februari 2015

Kesultanan Barus



MENGUNGKAP RAHASIA KESULTANAN BARUS , SEJARAH KEBESARAN BANGSA
Hi Guys !!!
Gimana kabarnya semua ??
Nah , kali ini kita akan bahas sejarah internal kita nih..
Ternyata ada loh , kesultanan di sumatra utara yang merupakan salah satu kesultanan yang tergolong sangat berpengaruh pada kehidupan masa sekarang... Tepatnya pada penyebaran agama islam pertama kali di negara kita ini “ Indonesia “.  Yaitu KESULTANAN BARUS
Mungkin , banyak dari kita yang masih asing mendengar nama Barus. Sebuah kota tertua di Indonesia yang terletak di pinggir pantai Barat Sumatera. Tapi teman teman tahu gak bahwa Barus merupakan perkampungan Arab Muslim pertama di Indonesia?  Atau mungkin kita masyarakat Indonesia sudah melupakan sejarah kita ? Sejarah yang membawa realitas hingga pada saat ini ? Yang membawa keanekaragaman budaya dan agama pada bangsa ini ? JASMERAH loo.. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Nah , tau gak teman apa dan dimana Kesultanan Barus  itu berada ? Ayoooo... Pada penasaran kan ? Nah , mari kita bahas sama sama ....

Tentang  barus


Barus merupakan kota yang cukup terkenal di mancanegara terutama di Arab dan Persia yang sekarang berubah nama menjadi Iran. Oleh karena itu barus juga sering dikunjungi oleh para arkeolog nasional maupun mancanegara. Barus merupakan kota Emporium atau pusat perdagangan pada abad 1- 17M. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Pada zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, saat Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh.
Pada masa lalu Kapur Barus dan rempah-rempah merupakan salah satu komoditas perdagangan yang sangat berharga dari daerah ini dan diperdagangkan sampai ke Arab, dan Persia. Kapur Barus sangat harum dan menjadi bahan utama dalam pengobatan di daerah Arab dan Persia. Kehebatan kapur ini pun menjalar ke seluruh dunia dan mengakibatkan dia diburu dan mengakibatkan harganya semakin tinggi. Eksplorasi yang berlebihan dari kapur barus ini mengakibatkan tidak ada lagi regenerasi dari pohon yang berusia lama ini. Saat ini sangat susah menemui pohon kapur barus, kalaupun ada umurnya masih belum mencapai usia memproduksi bubuk yang ada di tengah batang pohon.

 

Asal usul


Barus atau yang sebelumnya dikenal dengan Fansur, merupakan salah satu pelabuhan tua yang sudah berdagang emas serta kamper sejak ribuan tahun lalu.
Kesultanan Barus merupakan kerajaan Islam yang terletak di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Kesultanan Barus lebih bersifat demokratis. Kesultanan ini didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah dan berakhir pada saat pendudukan Hindia-Belanda di abad ke-19.
Menurut kronik Barus yang berjudul Sejarah Tuanku Badan Kesultanan Barus bermula dari berpindahnya anggota keluarga Kesultanan Indrapura ke Tarusan, Pesisir Selatan. Dari sini kemudian mereka pergi ke utara hingga tiba di Barus.
Menurut kronik itu, Kesultanan Barus didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Tarusan, Pesisir Selatan, tanah Minangkabau. Kepergian Sultan Ibrahimsyah (Ibrahim) ke Barus setelah ia berseteru dengan keluarganya di Tarusan. Ia pergi menyusuri pantai barat Sumatera hingga tiba di Batang Toru. Dari sini ia terus ke pedalaman menuju Silindung. Di pedalaman, masyarakat Silindung mengangkatnya sebagai raja Toba-Silindung. Di Silindung, Ibrahim juga membentuk institusi empat penghulu seperti halnya di Minangkabau. Penghulu ini berfungsi sebagai wakilnya di Silindung. Selanjutnya ia menuju Bakara dan menikah dengan putri pimpinan setempat. Dari putri Batak itulah, Sultan Ibrahim memiliki putra yang bernama Sisingamangaraja.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke Pasaribu. Disana masyarakat setempat menanyakan dari mana asalnya dan bertujuan untuk apa datang kesana. Untuk menyenangkan hati raja, Ibrahim menjawab bahwa ia datang dari Bakara dan bermarga Pasaribu. Mendengar kesamaan marganya dengan Ibrahim, Raja Pasaribu sangatlah senang. Ia kemudian meminta Ibrahim untuk tinggal di Pasaribu. Namun Ibrahim merasa bahwa tempat ini tidaklah cocok untuknya. Maka bersama raja dari Empat Pusaran (empat suku) ia pergi hingga tiba di tepi laut. Tempat ini kemudian dinamainya Barus, serupa dengan nama kampung kecilnya di Tarusan, Pesisir Selatan. Disini ia diangkat sebagai raja dengan gelar Tuanku Sultan Ibrahimsyah.
Raja Kadir merupakan penerus kerajaan yang telah turun-temurun memerintah Barus dan merupakan keturunan Raja Alang Pardosi, pertama sekali mendirikan pusat Kerajaaannya di Toddang (tundang), Tukka, Pakkat – juga dikenal sebagai negeri Rambe, yang bermigrasi dari Balige dari marga Pohan.
Pada abad ke-6, telah berdiri sebuah otoritas baru di Barus yang didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, keturunan Batak dari kumpulan marga Pasaribu, yang akhirnya membentuk Dualisme kepemimpinan di Barus. Silsilah raja yang pernah memerintah di kesultanan Barus adalah :
  1. Raja Kesaktian (di Toba)
  2. Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
  3. Pucaro Duan Pardosi di Tukka
  4. Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
  5. Raja Tutung Pardosi di Tukka
  6. Tuan Namora Raja Pardosi
Ada gap yang lama, raja-raja difase ini tidak terdokumentasi
  1. Raja Tua Pardosi
  2. Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
  3. Raja Mualif Pardosi
  4. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
  5. Sultan Marah Sifat Pardosi
  6. Tuanku Maraja Bongsu Pardosi (1054 H)
  7. Tuanku Raja Kecil Pardosi
  8. Sultan Daeng Pardosi
  9. Sultan Marah Tulang Pardosi
  10. Sultan Munawar Syah Pardosi
  11. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)
  12. Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)
  13. Sultan Sailan Pardosi (1241 H )
  14. Sultan Limba Tua Pardosi
  15. Sultan Ma’in Intan Pardosi
  16. Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
  17. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H)
Pada abad ke-6 otoritas baru di Barus oleh Sultan Ibrahimsyah membentuk Duliasme kepemimpinan di Barus.
  1. Sultan Ibrahimsyah
  2. Sultan Abidinnsyah Pasaribu
  3. Sultan Buchari Muslim Pasaribu

Sejarah


Pada abad ke-14, Kesultanan Barus merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Pagaruyung, bersama Tiku dan Pariaman, yang menjadi tempat keluar masuk perdagangan di Pulau Sumatera. Tahun 1524, Barus jatuh di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Posisi kesultanan ini kemudian menjadi vassal Aceh hingga tahun 1668. Selama pendudukan Aceh banyak penduduk Barus yang sebelumnya penyembah berhala menjadi muslim.
Dalam perkembangannya Kesultanan Barus dipimpin oleh dua orang raja, yakni Raja di Hulu yang memimpin masyarakat Toba-Silindung (pedalaman) dan Raja di Hilir yang membawahi orang-orang Minangkabau (pesisir) yang bermukim dari Barus hingga Batahan. Pembentukan dua raja ini bertujuan untuk memberikan keuntungan terhadap dominasi Aceh di Barus, sekaligus melegitimasi kedudukan raja-raja Batak. Sejak kehadiran VOC pada tahun 1668, kedua raja ini memiliki sikap yang berbeda. Raja di Hulu menolak kehadiran VOC dan mengangkat setia kepada sultan Aceh, sedangkan Raja di Hilir menerimanya dan menentang monopoli Aceh di Barus. Pada abad ke-19, Barus berada di bawah kekuasaan Hindia-Belanda dan menjadi bagian propinsi Sumatra's Weskust yang berpusat di Padang.

Istana

Istana Kesultanan Dinasti Pardosi/Pohan terletak di pinggir jalan yang melintasi dataran rendah melalui Kampung Barus Mudik. Istananya dari kayu disebut Gedung Putih, sekarang istana tersebut sudah hilang terbawa arus deras sungai pada waktu terjadi banjir besar. Masih terlihat sisa-sisa benteng tanah di tiga sisi kampungnya atau dahulu merupakan ibu kota Dinasti Kesultanan tersebut.

Bukti sejarah

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang di kenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Bahkan, dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir’aun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis bahwa Syaikh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi dan terdapat pula makam Syaikh Ushuluddin yang panjangnya kira-kira 7 meter. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang berkerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad ke 9-12 M, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu dan sebagainya.Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun, dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh dan sebagainya, hidup dengan berkecukupan di kota Barus dan sekitarnya.
Jadi uda tahu kan kenapa Barus di sebut sebagai kota tertua? Karena mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya.
Okay GUYS!!Selesai sudah artikel yang saya buat dari berbagai literatur dan buah pikiran saya . semoga bermanfaat bagi kita semua.
CINTAILAH SEJARAH BANGSA DAN JANGAN SEKALI KALI MELUPAKAN SEJARAH !!!!!

By: Arjuna Exaudi Sitorus





1 komentar:

iyahyuktravelling mengatakan...

Jad kota Barus adalah kota yang lebih dahulu tercatat di literatur Yunani, Arab dan cina serta India sebelum Sriwijaya dong ya?

Posting Komentar